Salah Menghitung HPP karena Lupa Memasukkan Biaya Penyusutan Mesin & Kemasan
Harga jual terlihat aman. Margin kelihatan bagus. Tetapi setelah dihitung lebih dalam, ternyata HPP yang digunakan dari awal terlalu rendah karena ada biaya produksi yang lupa dimasukkan.
Kesalahan seperti ini bisa terjadi ketika pemilik usaha hanya menghitung bahan baku dan tenaga kerja langsung, sementara kemasan, penggunaan mesin, utilitas produksi, dan biaya produksi lainnya dianggap terlalu kecil atau terlalu rumit untuk dimasukkan.
Masalahnya, jika HPP terlalu rendah, maka keputusan harga jual, margin, profit, dan diskon ikut berdiri di atas angka yang salah.
HPP Bukan Hanya Bahan Baku
HPP = Bahan Baku + Tenaga Kerja
Pada usaha tertentu, perhitungan tersebut mungkin cukup untuk gambaran awal.
Namun jika proses produksi melibatkan mesin, kemasan, energi, alat, atau biaya pendukung lain, HPP perlu melihat biaya secara lebih lengkap.
Secara praktis, struktur biaya produksi dapat dilihat seperti ini:
Kenapa Penyusutan Mesin Perlu Diperhatikan?
Misalnya Anda membeli mesin untuk membantu proses produksi.
Mesin tersebut dibayar sekali, tetapi digunakan untuk menghasilkan produk selama periode yang jauh lebih panjang.
Karena itu, harga mesin tidak selalu masuk seluruhnya ke satu produk atau satu bulan produksi.
Dalam pendekatan sederhana untuk estimasi biaya usaha, nilai penggunaan mesin dapat dialokasikan sepanjang masa penggunaannya.
Contoh rumus sederhana:
Kemudian:
Tujuannya bukan membuat semua usaha memakai metode akuntansi yang sama, tetapi memastikan bahwa penggunaan mesin tidak dianggap mempunyai biaya nol jika memang mesin tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan produk.
Contoh: HPP Terlihat Rp10.000 per Unit
Misalnya sebuah usaha memproduksi 1.000 unit produk.
| Komponen biaya | Total biaya | Per unit |
|---|---|---|
| Bahan baku | Rp8.000.000 | Rp8.000 |
| Tenaga kerja langsung | Rp2.000.000 | Rp2.000 |
| Total biaya awal / HPP awal | Rp10.000.000 | Rp10.000 |
| Kemasan | Rp1.000.000 | Rp1.000 |
| Alokasi biaya mesin | Rp500.000 | Rp500 |
| Biaya produksi lain | Rp500.000 | Rp500 |
| Total biaya tambahan | Rp2.000.000 | Rp2.000 |
| Total setelah koreksi / HPP baru | Rp12.000.000 | Rp12.000 |
Kelihatannya sederhana, tetapi setelah kemasan, alokasi biaya mesin, dan biaya produksi lain dimasukkan, total biaya produksi menjadi Rp12.000.000.
Estimasi HPP baru = Rp12.000 per unit.
Artinya, HPP awal terlalu rendah sebesar Rp2.000 per unit.
Selisih Kecil per Unit Bisa Menjadi Besar
Rp2.000 terlihat kecil jika hanya dilihat pada satu produk.
Tetapi jika bisnis memproduksi 5.000 unit:
Artinya, kesalahan kecil dalam HPP per unit dapat menghasilkan perbedaan besar ketika volume meningkat.
Inilah alasan HPP sebaiknya dihitung dengan cukup teliti sebelum bisnis menentukan harga jual.
Kemasan Sering Terlupakan karena Terlihat Sepele
Kemasan adalah salah satu biaya yang mudah diabaikan.
Contohnya:
- botol;
- pouch;
- kardus;
- plastik;
- label;
- stiker;
- segel;
- bubble wrap;
- kotak produk;
- bahan pelindung lainnya.
Jika biaya kemasan hanya Rp1.000 per unit, jumlah tersebut mungkin terasa kecil.
Tetapi jika produksi mencapai 10.000 unit:
Rp1.000 × 10.000 = Rp10.000.000
Karena itu, biaya kemasan sebaiknya tidak dianggap tidak penting hanya karena nominal per unitnya kecil.
Biaya Produksi Lain Juga Perlu Dicek
Selain bahan baku, tenaga kerja, mesin, dan kemasan, beberapa usaha juga mempunyai biaya produksi lain.
Contohnya:
- listrik produksi;
- gas;
- air;
- bahan pendukung;
- perawatan alat;
- biaya sewa alat;
- bahan pembersih;
- quality control;
- biaya produksi lain yang memang relevan.
Tidak semua bisnis memiliki struktur biaya yang sama.
Yang penting adalah memastikan biaya yang memang ada tidak hilang dari perhitungan.
Kesalahan HPP Bisa Membuat Harga Jual Terlalu Rendah
Misalnya Anda menghitung:
Kemudian menetapkan harga jual:
Selisih terlihat:
Tetapi setelah HPP diperbaiki menjadi Rp12.000:
Profit yang terlihat awalnya Rp5.000 ternyata hanya Rp3.000 sebelum biaya penjualan lainnya dihitung.
Kalau kemudian masih ada marketplace fee, iklan, ongkir, atau biaya transaksi, ruang keuntungan bisa menjadi lebih kecil lagi.
Margin yang Terlihat Bagus Bisa Ternyata Semu
Margin dihitung menggunakan biaya sebagai salah satu dasarnya.
Jika biaya terlalu rendah, margin juga akan terlihat terlalu tinggi.
Artinya, kesalahan HPP dapat menciptakan efek berantai:
Padahal fondasi perhitungannya belum benar.
Diskon Bisa Menjadi Berbahaya Jika HPP Salah
Bayangkan Anda merasa HPP sebuah produk adalah Rp10.000 dan harga jual Rp15.000.
Anda kemudian memberikan diskon karena merasa masih punya ruang margin.
Tetapi jika HPP sebenarnya Rp12.000, ruang diskon jauh lebih sempit.
Inilah alasan kenapa diskon sebaiknya tidak ditentukan hanya dari harga jual.
Sebelum membuat promo, cek dulu HPP dan margin yang sebenarnya.
Gunakan:
dan:
Gunakan Kalkulator Biaya Produksi PHK
Jika Anda ingin menyusun biaya produksi dengan lebih terstruktur, gunakan:
Gunakan kolom biaya yang tersedia untuk memasukkan komponen produksi yang memang relevan dengan usaha Anda.
Jika ada biaya yang belum memiliki kolom khusus, masukkan ke bagian Biaya Produksi Lain selama biaya tersebut benar-benar berkaitan dengan proses produksi yang sedang dihitung.
Untuk penyusutan atau alokasi mesin, hitung terlebih dahulu bagian biaya mesin yang relevan dengan periode produksi, lalu masukkan nilainya sebagai bagian dari biaya produksi.
Setelah HPP Benar, Baru Tentukan Harga Jual
HPP adalah salah satu fondasi utama dalam menentukan harga.
Jika HPP terlalu rendah, harga jual yang terlihat menghasilkan margin bisa saja terlalu murah.
Setelah memperoleh estimasi HPP yang lebih lengkap, gunakan:
Dengan begitu, harga jual tidak hanya berasal dari perkiraan atau mengikuti kompetitor, tetapi menggunakan struktur biaya yang lebih jelas.
Hitung Profit Setelah Harga Jual Ditentukan
Setelah mengetahui HPP dan harga jual, cek berapa profit yang tersisa.
Gunakan:
dan:
Dengan begitu, Anda dapat melihat nominal profit dan margin berdasarkan angka yang lebih realistis.
Jangan Berhenti di Profit Kotor
Walaupun HPP sudah benar, profit dari produk belum tentu sama dengan laba bersih usaha.
Masih mungkin ada:
- pajak atau kewajiban;
- marketplace fee;
- payment fee;
- biaya iklan;
- subsidi ongkir;
- retur;
- biaya administrasi;
- operasional lainnya.
Karena itu, setelah menghitung HPP dan profit produk, lanjutkan dengan:
True Profit Calculator / Kalkulator Untung Bersih Usaha PHK
Tool ini membantu melihat berapa laba yang benar-benar tersisa setelah HPP dan biaya lainnya ikut diperhitungkan.
Checklist Sebelum Menentukan HPP
Sebelum menetapkan HPP final, cek apakah komponen berikut sudah diperhitungkan:
- Bahan baku utama sudah masuk?
- Bahan pendukung sudah masuk?
- Tenaga kerja langsung sudah masuk?
- Kemasan sudah dihitung?
- Penggunaan mesin atau alat sudah diperhitungkan?
- Biaya listrik atau energi produksi sudah masuk jika relevan?
- Biaya maintenance atau perawatan sudah dipertimbangkan?
- Biaya produksi lain sudah dimasukkan?
- Jumlah unit produksi sudah benar?
- Waste atau reject sudah diperhatikan jika memang terjadi?
Kalau beberapa biaya masih belum masuk, HPP kemungkinan belum menggambarkan biaya produksi secara lengkap.
Jangan Campurkan Semua Biaya ke HPP Tanpa Struktur
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak semua biaya bisnis otomatis masuk HPP dengan cara yang sama.
Ada biaya yang berkaitan langsung dengan produksi.
Ada pula biaya yang muncul setelah produk selesai diproduksi atau setelah produk terjual.
Contohnya:
- marketplace fee;
- iklan;
- subsidi ongkir;
- payment fee;
- biaya penjualan lainnya.
Untuk analisis praktis, alurnya dapat dipisahkan menjadi:
Struktur ini membantu menghindari pencampuran biaya yang membuat analisis menjadi sulit dibaca.
Tool PHK yang Relevan
bantu menyusun biaya produksi dengan lebih terstruktur.
gunakan setelah HPP lebih jelas untuk menentukan harga jual.
hitung selisih keuntungan dari harga jual dan biaya.
cek persentase margin dari produk.
lanjutkan sampai laba bersih setelah biaya lain ikut dihitung.
Periksa Kembali Biaya Produksi Anda
Masukkan komponen biaya yang relevan agar estimasi HPP lebih lengkap sebelum menentukan harga jual, margin, atau diskon.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah biaya penggunaan mesin perlu diperhitungkan dalam HPP?
Jika mesin digunakan untuk menghasilkan produk, biaya penggunaannya perlu dialokasikan secara wajar ke periode produksi. Besarnya bergantung pada masa penggunaan, volume produksi, dan metode pencatatan yang digunakan.
Apakah semua biaya usaha otomatis masuk ke HPP?
Tidak. HPP berfokus pada biaya produksi yang relevan. Biaya setelah produksi, seperti iklan, marketplace fee, subsidi ongkir, dan biaya transaksi, perlu dianalisis terpisah sebagai biaya penjualan.
Mengapa biaya kemasan perlu dimasukkan?
Kemasan digunakan pada setiap produk dan jumlahnya dapat menjadi besar ketika volume produksi meningkat. Karena itu, hitung biaya kemasan per unit atau untuk periode produksi yang sedang dianalisis.
Kesimpulan: HPP yang Salah Bisa Membuat Semua Keputusan Setelahnya Ikut Salah
Kesalahan menghitung HPP tidak selalu terjadi karena rumusnya sulit.
Sering kali penyebabnya justru sederhana:
ada biaya yang lupa dimasukkan.
Mesin digunakan tetapi biaya penggunaannya dianggap nol.
Kemasan dipakai di setiap produk tetapi tidak dimasukkan.
Biaya produksi kecil dianggap tidak penting.
Akibatnya, HPP terlihat murah.
Harga jual terlihat aman.
Profit terlihat besar.
Margin terlihat menarik.
Padahal dasar perhitungannya belum lengkap.
Sebelum menentukan harga jual, tanyakan:
“Apakah semua biaya yang benar-benar dibutuhkan untuk menghasilkan produk ini sudah ikut dihitung?”
Semakin akurat HPP, semakin baik dasar Anda untuk menentukan harga, margin, diskon, dan keuntungan usaha.